selamat Datang

Semua Untuk Belajar

Welcome

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

BUKU TAMU

KICK

Jumat, 15 April 2011


2.1.        Tekanan Formasi
            Pada tekanan Formasi di kenal tiga macam :
·         Tekanan Overbourden
·         Tekanan fluida formasi
·         Tekanan Rekah formasi
2.1.1.   Tekanan Overbourden
            Tekanan yang diakibatkan oleh seluruh beban yang berada di atas suatu kedalaman tertentu tiap satuan luas di derita fluida akibat beban batuan diatasnya.
P = Go x D
Go = gradient tekanan Overbourden psi / ft
D = kedalaman
2.1.2.   Tekanan fluida formasi, terdapat :
2.1.2.1.    Tekanan fluida formasi normal
                Tekanan fluida (minyak, gas, air) yang bekerja pada pori – pori batuan. Secara hidrostatis untuk keadaan normal sama dengan keadaan tekanan kolom cairan yang ada didalam dasar formasi sampai ke permukaan. Bila isi dari kolom yang terisi cairannya bebeda, maka besarnya tekanan hidrostatik berbeda, untuk kolom air tawar sebebsar 0.433 psi/ft dan untuk kolom air asin gradient tekanan hidrostatiknya sebebsar 0.465 psi/ft
                Formasi di katakan normal apabila garadient tekanan formasinya 0.465 psi.
2.1.2.2.    Tekanan formasi Abnormal
                Yang dimaksud dengan tekanan formasi abnormal biasanya tekanan formasi yang lebih besar dari yang di perhitungkan pada gradient hidrostatik. Hal ini di sebabkan oleh kompaksi sedimen yang ada di atasnya sedemikian rupa sehingga air yang keluar dari lempeng tidak langsung dapat menghilang dan tetap berada di dalam batuan.
2.1.2.3.    Tekanan formasi Subnormal
                Tekanan formasi yang berada di bawah tekanan hidrostatik normal, kejadiannya bias akibat proses geologi naik turunnya formasi.
2.1.3.   Tekanan Rekah formasi
                        Tekanan dimana formasi itu akan merekah, karena adanya tekanan yang besar dari dalam lubang bor
                        Kalau formasi rekah tentunya lumpur pemboran akan lari masuk ke formasi. Besarnya gradient tekanan rekah dipengaruhi oleh besarnya tekanan overbourden, tekanan formasi dan kondisi kekuatan batuan.
                        Mengetahui gradien tekanan rekah sangat berguna ketika meneliti kekuatan casing, sedangkan bila gradient tekanan rekah tidak diketahui maka akan mendapat kesulitan dalam pekerjaan penyemenan dan penyelubungan sumur.                 
2.2.      Pengertian kick
            Kick adalah merupakan suatu proses masuknya fluida formasi ke dalam lubang sumur. Terjadi karena kondisi tekanan Hidrostatik (Ph) lebih kecil dari pada tekanan formasi (Pf). Tekanan Hidrostatik turun tergantung pada berat jenis lumpur, dan ketinggian kolom lumpur.
2.3.      Penyebab terjadinya Kick
            Kick dapat terjadi karena disebabkan oleh :
1.    Berat jenis lumpur yang tidak memadai
2.    Swab Effect
3.    Menembus formasi gas
4.    Tinggi kolom lumpur

2.3.1.   Berat jenis lumpur yang tidak memadai
            Berat jenis lumpur turun dikarenakan bercampurnya fluida formasi dengan lumpur bor, fluida formasi yang cepat menurunkan berat jenis lumpur adalah gas.
2.3.2.   Swab Effect
                        Swab Effect terjadi apabila pencabutan rangkaian pipa pemboran yang terlalu cepat, dan viscositas lumpur yang terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan lumpur yang diatas bit  terlambat turun ke bawah bit sehingga ruangan yang berada di bawah bit menjadi vakum, sehingga fluida formasi masuk kedalam lubang.
                        Pencegahannya dapat dilakukan dengan mencabut rangkaian pipa bor jangan terlalu cepat, terutama di dalam open hole, dan usahakan viscositas lumpur jangan terlalu tinggi.

2.3.3.   Menembus formasi gas
                        Formasi gas mengandung gas di dalam pori – pori batuannya, waktu menembus formasai gas, cutting yang dihasilkan akan mengandung gas. Gas keluar dari cutting dan masuk kedalam lumpur, makin lama gas makin banyak sehingga akan menurunkan berat jenis lumpur.

2.3.4.   Tinggi kolom lumpur
                        Tinggi kolom lumpur dapat turun dikarenakan lumpur yang masuk kedalam formasi (lost circulation), sehingga hal ini menyebabkan terjadinya kehilangan sirkulasi, maka berakibat berkurangnya volume lumpur juga dan akhirnya mengurangi tekanan hidrostatik lumpur itu sendiri, maka cairan formasi akan mendesak lumpur dalam sumur juga.
Hal ini dapat disebabkan oleh :
1.    Formasi pecah
2.    Bit masuk formasi berongga, bergoa atau rekahan

2.4.      Tanda – tanda terjadinya kick
            Tanda – tanda Well kick dalam operasi pemboran dapat diketahui dari beberapa parameter, yaitu :
            2.4.1.   Saat sedang dilangsungkannya pemboran
1.  Laju penembusan tiba – tiba naik
2.  Volume di lumpur naik
3.  Tekanan pompa untuk sirkulasi turun dengan kecepatan pompa naik.
4.  Hadirnya gelembung – gelembung gas pada lumpur
2.4.2.   Saat menyambung pipa, pompa dihentikan
            1.  Aliran tetap walaupun pompa dihentikan.
            2.  Volume lumpur di tangki bertambah.
            3.  Tekanan pompa untuk sirkulasi makin turun dengan bertambahnya pipa.


2.5.      Kondisi tekanan system pada saat normal, saat Well kick dan pada saat penanggulangannya.
            2.5.1.   Kondisi tekanan ketika operasi pemboran berjalan dengan normal.
1.    Besarnya tekanan lumpur yang keluar dari annulus sangat kecil mendekati nol, supaya lumpur tersebut tidak tersembur ke atas tetapi yang diinginkan berupa pengaliran dari flow line ke shale shaker dan alat – alat lainnya sampai ke tangki lumpur.
2.    Karena selama operasi pemboran tersebut lumpur mulai dari pompa sampai kembali di flow line mengalami kehilangan tekanan (pressure loss) akibat lumpur bergesekan dengan pipa – pipa dan viscositas lumpur itu sendiri, sedangkan dalam keadaan static tekanan dalam pipa dan annulus pipa dipermukaan sama yaitu nol, maka ketika sirkulasi terjadi pompa harus memberikan tekanan kepada lumpur sebesar tekanan yang hilang sepanjang jalan yang dilalui.
3.    kondisi tekanan selama operasi pemboran berjalan dengan normal ialah, gradient tekanan lumpur dinamik di annulus lebih besar sedikit dari gradient tekanan lumpur static  dan lebih besar dari gradient tekanan formasi. Dalam kondisi ini dijamin tidak ada fluida formasi yang masuk kedalam lubang bor yang kita sebut dengan Well kick.

            2.5.2.   Tekanan operasi ketika ada kick
                        Hadirnya kick pada sumur pemboran menunjukkan bahwa gradient tekanan formasi lebih besar dari gradient tekanan hidrostatik lumpur.
                        Gradient tekanan static formasi lebih besar dari gradient tekanan dinamik lumpur maupun gradient tekanan static lumpur sehingga menyebabkan fluida formasi mendesak masuk ke lubang bor.
            2.5.3.   Tekanan operasi penanggulangan
                        Pada kondisi normal tekanan formasi cukup terpenuhi oleh tekanan hidrostatik lumpur sehingga tekanan di permukaan beharga nol.
                        Pada kondisi kick tekanan formasi dipenuki oleh tekanan hidrostatik lumpur dan hidrostatik kick.
            2.5.4.   Calculate
                        2.5.4.1.     Calculate Estimated Kick Length
                                        ....................................... (2.1)
                        2.5.4.2.     Calculate Approximate Density
                                                                                                            
……..(2.2)

                


Seperti yang telah diketahui bahwa kick adalah masuknya fluida formasi yang tidak kita inginkan pada saat pemboran berlangsung atau tidak, maka kita harus dapat mengantisipasi kejadian tersebut, karena hal itu dapat merugikan pemboran yang sedang berlangsung, apabila kick tidak dapat tertanggulangi, maka kick  tersebut akan menyembur ke permukaan yang di sebut dengan semburan liar atau blowout. Hal ini akan manyebabkan kerugian yang besar, seperti hilangnya peralatan akibat  terbakar hingga nyawa pekerja pun menjadi taruhannya. untuk itu di perlukan suatu pengontrolan sumur yang lebih kita kenal dengan Well Control.
Basic perhitungan dari well control merupakan bagian dari proses sirkulasi lumpur, yang mana meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, tekanan, densitas fluida, volume sirkulasi juga perlu diketahui di dalam suatu sumur.
Dalam bab ini menerangkan bahwa perhitungan matematik dari pekerjaan akan memberikan suatu jawaban dalam pengontrolan sumur.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

MAU DAFTAR PUSTAKANYA DONG BRO

Posting Komentar

 

Lorem

Ipsum

Dolor